Tulisan Tebaru

بِسْم اللٰه الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Rabu, 20 April 2011

Hamil Luar Nikah

Share on :
Marsus Banjarbarat*
(Suara Pembaruan, 11 April 2011)
Siapa sangka kalau Tamam akan menuduh Fajri, teman dekatnya yang menghamili Maryani, tunangannya yang pada hari itu juga berencana malaksanakan akad nikah. Tapi akhirnya gagal.
“Bukan aku yang melakukannya,” tukas Fajri dengan nada setinggi langit sewaktu ditanya oleh Tamam.
“Siapa lagi kalau bukan kamu, hanya kamu satu-satunya lelaki yang selama ini dekat dengan Maryani” Tamam mulai naik pitam.

Memang benar: Tamam, Fajri, dan Maryani adalah teman karib  semenjak SMA. Kemanapun mereka pergi, ketiganya pasti selalu bersama. Kalau tidak pergi bertiga, paling salah satunya sedang sakit dan biasanya Tamam yang sering sakit-sakitan.
            Semuanya jadi kacau-balau. Pernikahan yang telah direncanakan seminggu lalu hancur berantakan.
“Semua ini karena ulahmu. Biadab!” Tamam sampai pada puncak kemarahannya. Fajri hanya diam mematung menatap Tamam yang wajahnya sedang berapi-api.
            Fajri akhirnya juga tidak terima dengan tuduhan Tamam yang diungkap begitu saja dihadapan orang banyak. Harga diri Fajri serasa diinjak-injak oleh Tamam. Fajri menjadi orang yang terpojok ketika itu, sebab memang Fajrilah orang yang selama ini selalu bersama Maryani.
            Fajri tak bisa berkutik lagi. Tuduhan Tamam yang berdalih bahwa hanya Fajrilah lelaki satu-satunya yang setiap saat selalu bersama Maryani tidak bisa dibantah. Itu memang benar kenyataannya, sebab Fajri dan Maryani memang teman karib semenjak SD, lagi pula mereka tetanggaan, rumahnya berdampingan.
            Yusri, paman Fajri tak terima melihat ponaannya di permalukan didepan banyak orang. Spontan Yusri menghampiri Tamam yang sedang berdiri dengan wajah kusud tak karuan. “Centarrrrr...!!!!” tangan panjang Yusri akhirnya mendarat tepat di pipi Tamam. “Jaga mulutmu, Tamam. Lancang benar kamu menuduh Fajri menghamili Maryani,” tukas Yusri sambil menuding Tamam.
            Wajah Tamam memerah bak bara api—terpancing emosi mendengar kata-kata Yusri. Tamam beranjak dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membalas tamparan Yusri. Namun dengan sigap, Yusri lincah menangkap tangan Tamam, dan kumudian ia dorong sampai Tamam terjatuh.
            Lalu, Yusri melangkah menghampiri Fajri, meraih lengan tangannya, dan mengajaknya pergi meninggalkan Tamam yang sedang tersipu di tanah.
***
“Sudah, bubarkan saja!” suruh Iqro’, bapak Maryani, sambil menggeleng-geleng kepala, ditikam oleh kekecewaan yang luar biasa.
            Akhirnya para undangan yang hadir terpaksa dibubarkan. Seiring dengan kekecewaan yang sedang dialami oleh keluarga Iqro’, ayah Maryani.
“Malu kita, Pak!” lenguh istri Iqro’ sambil menitikkan air mata dari pipinya.
“Kita tidak punya pilihan lain, Tamam sudah pergi tidak mau menikahi Maryani”
“Tapi apa kata tetangga jika mereka tahu kalau anak kita hamil diluar nikah, Pak? Malu kita, Pak! Dan yang jelas tak kan ada lelaki yang mau menjadi suami Maryani,” kekhawatiran istri Iqro’ begitu mendalam akan putri satu-satunya. Iqro’ bergeming, sederet derita terus-terusan ia pikirkan dan sungguh sangat meletihkan.
“Biarkan saja, itulah resikonya. Sudah berulang kali bapak bilang, jangan bergaul bebas, tetap saja Maryani bergaul bebas” Iqro’ kecewa dan dia pasrah saja menghadapi masalah itu.
“Tidak! Bapak jangan pasrah begitu saja, kasian anak kita, Bapak harus cari siapa sebenarnya lelaki yang menghamili Maryani. Tanyakan pada Maryani, siapa yang menghamilinya.”
Iqro’ melotot mendengar kata-kata istrinya. Lalu dia berbalik arah pergi meninggalkan istrinya.
“Kalau bukan Fajri siapa lagi, toh memang lelaki pengecut itu yang sering bersama Maryani” ucap Iqro’ dengan langkah lunglai meninggalkan rumah.
            Tiba-tiba dari arah berlawanan Zulfa, istri Iqro’ membuntutinya.
“Pak, mau kemana?” tanya Zulfa. “Tanyakan saja dulu pada Maryani, Pak. Siapa sebenarnya lelaki yang menghamili Maryani,” lanjutnya sambil meraih tangan Iqro’.
“Siapa lagi kalau bukan lelaki biadab itu. Ibu kandungnya saja meninggal dunia dua tahun yang lalu gara-gara kelakuan jahat Fajri.”
“Bukankah ibunya itu meninggal dunia karena dibunuh oleh para perempok yang berusaha mengambil uangnya sewaktu dia baru keluar dari Bank?” bantah Zulfa.
“Iya, tapi para perampok itu kan suruhan Fajri, anaknya sendiri”
Zulfa diam mematung.
***
“Heiii... Biadab, keluar kamu!” teriak Iqro’ didepan rumah Fajri. Iqro’ sudah tak tahan mengendalikan amarahnya yang meletup-letup memenuhi ruang tubuhnya. Dia ingin menghajar Fajri karena dia telah lancang menghamili anak gadisnya, pikir Iqro’ dalam benaknya.
“Pengecut, keluar kamu!” teriakannya berulang kali membentur celah ruang kamarku.
            Suara risau itu meski agak samar terdengar ke rumahku, aku merasa risih dan hati bertanya-tanya prihal suara teriakan tersebut.  Aku yang sedang tertidur pulas di kamar, terhenyak mendengar teriakan itu yang semakin lama semakin bertambah keras, mungkin tidak hanya diriku, orang-orang disekitar rumah Fajri juga kaget mendengar suara teriakan tersebut.
“Heiii biadab, cepat keluar! Jika tetap tidak mau keluar, akan ku bakar rumahmu ini” teriakan sekali lagi semakain keras. Keras sekali! Hingga akhirnya aku bangun dan beranjak mendatangi rumah Fajri yang tak jauh dari rumahku.
            Sontak, kepalaku serasa pening saat melihat Iqro’ yang sedang berdiri tegap dengan mengacung-acungkan celurit di halaman rumah Fajri, pantas saja Fajri tidak mau keluar dari rumahnya. Jangankan ingin menemui Iqro’ yang wajahnya bak singa yang hendak memangsa, mendengar suara gelegarnya saja yang menyamai halilintar dia sudah pasti gemeter.
Aku diam tak melangkah, kulihat Iqro’ terus-terusan memancing amarah Fajri dengan cara memaki-maki Fajri agar dia cepat keluar dari rumahnya. Namun, Fajri tetap tak keluar. Entahlah, aku juga tak tahu, apakah Fajri ada di rumahnya atau sengaja pergi karena takut untuk menemui Iqro’?
“Gebraaaakkkkk...!!!” Iqro’ melabrak pintu rumah Fajri dengan paksa. Tapi Fajri sudah lenyap tak ada di dalam rumah. Sepertinya, Fajri pergi meninggalkan rumah melalui jendela belakang, karena pintu jendela belakang kelihatan terbuka lebar sewaktu Iqro’ mencari Fajri memasuki seluruh ruang kamarnya.
***
“Percuma, Pak, ngak usa cari Fajri. Siapa tahu pelakunya adalah orang lain. Kita tanya saja dulu pada Maryani, siapa sebenarnya yang telah menghamilinya” ujar Zulfa menenangkan Suaminya.
“Sudah berapa kali bapak tanya Maryani, tapi apa? Maryani tak menjawab sepatah katapun pertanyaan bapak” bantah Iqro’ kecewa.
“Iya kita paksa saja sampai Maryani bicara”
“Apa untungkan maskipun Maryani bilang siapa lelaki yang menghamilinya. Kita sudah terlanjur malu, dan tak punya muka di masyarakat” Iqro’ sedih.
“Nanti kita bisa tuntut pelakunya”
“Tuntut?”
“Iya, tuntut dan kita bawa kepengadilan, kita bisa menghukumnya kan Pak?”
“Percuma! Hukum sekarang bisa dibeli”
Zulfa bergeming. Iqro’ tetap tak terima sebelum membalas sakit hatinya kepada orang yang telah membuat hamil anaknya diluar nikah. Fajri, ya Fajrilah pasti yang melakukan semua ini, desis Iqro’, tapi hampir tak terdengar lamat-lamat suaranya oleh istrinya.
***
Iqro’ dan Tamam kini diam-diam mengintip rumah Fajri. Dua orang yang sama-sama memiliki rasa dendam kepada Fajri berencana untuk membunuhnya dengan cara apa pun karena mereka pikir, hanya gara-gara Fajrilah pesta penikahan Tamam bisa gagal dan keluarga mereka dipermalukan. Mereka akan bertindak sendiri dalam masalah ini, mereka tak mau masalah ini melibatkan  pengadilan, karena mereka tak percaya lagi dengan adanya putusan yang diputuskan dipengadilan, yang berkuasa bukan lagi hakim, tapi adalah uang, pikirnya.
Tak lama berselang, Fajri bersama seseorang datang memasuki rumahnya. Sementara Iqro’ dan Tamam terus mencermati dan terus mengamati, siapa orang yang datang bersama Fajri itu?
“Mungik dia Yusri, pamannya?” kata Tamam khawatir.
“Bukan! Pamannya tak se gagah itu. Mungkin dia seorang bleter yang sengaja dibayar untuk melawan kita” jelas Iqro’ bimbang.
“Terus?”
“Ingat! keluarga kita telah dipermalukan didepan masyarakat oleh Fajri, kita tetap bunuh dia” amarah Iqro’ semakin menggebu-gubu.
“Tapi Fajri bersama bleter, kita pasti kalah. Kita tuntut saja kepengadilan, lalau hukum”
“Ah, kamu masih percaya pada pengadilan, yang ada nanti akan menguras harta kita, dan hasilnya akan nihil”
Tamam melotot.
“Sudahlah, kalau kamu takut, diam saja disini, aku yang akan menghadapi Fajri dan bleter itu” lanjut Iqro’.
Kemudian Iqro’ menyerocos menuju halaman rumah Fajri.
“Fajri, keluar!!!” teriak Iqro’.
Aku yang baru saja melakukan shalat subuh berjamaah di masjid samping rumah Fajri tertegun mendengar suara teriak Iqro’. Dan aku langsung turun menuju rumah Fajri. Mengintip dari arah kejauhan, melihat apa yang akan terjadi antara Iqro’ dan Fajri.
Lalu Fajri keluar menemui Iqro’. “Ada apa pagi buta sudah menginjak rumahku?” tanya Fajri pelan.
“Kau harus bertanggung jawab atas kelakuanmu pada Maryani, anakku” kata Iqro dengan nada agak tinggi.
“Bukan aku yang melakukannya” jawab Fajri tak terima. Aku mulai terhenyak mender perbincangan mereka.
“Siapa lagi kalau bukan kamu” Iqro’ mulai naik pitam.
“Tanyakan saja pada Maryani, anakmu” kata Fajri semakin memancing amarah Iqro’.
Entah kenapa tiba-tiba saja badanku terasa bergetar. Tapi aku tetap diam dikejauhan melihat pertengkaran antara Iqro’ dan Fajri.
“Bangsat kamu, Fajri” Iqro’ mengeluarkan secarik celurit yang diselibkan dipunggungnya. Namun sebelum Iqro’ menebas leher Fajri, seseorang keluar dari rumah Fajri. Lalu Iqro’ tertegun menghentikan aksinya, melihat seseorang yang sedang berdiri tegap di belakang tubuh Fajri. Baru setelah beberapa detik, Iqro’ dengan cepat menebas tubuh Fajri dengan ujung celurit tersebut.
“Hentikan! Bukan Fajri yang menghamiliku” kata Maryani yang tiba-tiba muncul dibelankang Iqro’. Dia terisak menitikakan air mata dan meminta maaf sambil memeluk ayahnya.
Aku semakin bergemetaran melihat si perempuan itu. Ketakutanku kini sudah menguasai suluruh pori-pori tubuhku. Suasana menjadi hening saat Maryani datang dan menjelaskan, kalau akulah sebenarnya pelaku dari semua itu, akulah yang memerkosa Maryani sewaktu maryani tertidur pulas dirumah Fajri. Lalu, aku langsung pergi, sebelum mereka melihatku dan menangkapku untuk dibawa ke pengadilan.
(*) Penulis adalah Alumni Al-In'Am sedang melanjutkan pendidkan di perguruan tinggi UIN Su-Ka. Aktifis PMII, Pers Mahasiswa dan Dunia kepenulisan Yogyakarta. Tulisannya di muat diberbagai Media, baik lokal maupun Nasional. Karyanya dibukukan diberbagai Antologi baik cerpen maupun puisi.
 


Baca Posting Terkait Lainnya:

2 komentar:

Syaiful Amri mengatakan...

ceritanya sangat asyik,.....

IKAAY mengatakan...

hahahah... terimakasih. semoga kita mampu melahirkan cerita yang lebih indah lagi

Poskan Komentar

Kolom Berlangganan Tulisan Terbaru IKAAY

Masukkan email anda jika ingin berlangganan tulisan kami:

Tulisan yang anda pesan akan sampai ke tujuan tanpa ongkos kirim.Jika tulisan yang kami kirim tidak sesuai dengan keinginan anda silahkan pilih sendiri Disini