Tulisan Tebaru

بِسْم اللٰه الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Rabu, 22 Februari 2012

Transformasi Kurikulum Pesantren (Dialektika Antara Al-Kutub al-Shafro’ dan Al-Kutub Al-Baidla’)

Share on :
Oleh: Rahbini*
           A.   Pendahuluan
Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, tentunya tidak berangkat dari ruang hampa. Kondisi sosio-historis yang mengitarinya (socio-cultural sorrounding) ikut serta membentuk dan mempertegas eksistensi pesantren dalam setiap epoch babakan sejarah. Diakui atau tidak kehadiran pesantren merupakan respon positif terhadap fakta realitas sosial masyakarat dimana pesantren tersebut berada.
Disinilah kemudian pesantren dicap sebagai indegenous[1] institusi pendidikan Indonesia yang tidak ditemukan padanannya di negara-negara manapun menemukan titik labuhnya, termasuk di timur tengah sebagai tempat lahirnya Islam, terlepas apakah ia termasuk meneruskan tradisi Hindu-Budha yang telah eksis sebelumya.
Kehadiran pesantren di nusantara seperti sebuah oase di tengah padang sahara yang tandus dan gersang, yang mampu melepaskan dahaga dan memberikan kesegaran terhadap para petualang yang melakukan salik intlektual dan spiritual.
Pesantren telah lama menjadi lembaga yang memiliki kontribusi penting dalam ikut serta mencerdaskan bangsa. Banyaknya jumlah pesantren di Indonesia, serta besarnya jumlah santri pada tiap pesantren menjadikan lembaga ini layak diperhitungkan dalam kaitannya dengan pembangunan bangsa di bidang pendidikan dan moral. Perbaikan-perbaikan yang secara terus menerus dilakukan terhadap pesantren, baik dari segi manajemen, akademik (kurikulum) maupun fasilitas, menjadikan pesantren keluar dari stigma buram tradisional, kumuh, sarungan, dan kolot yang selama ini disematkannya. Beberapa pesantren bahkan telah menjadi model-untuk tidak mengatakan bancmark-dari lembaga pendidikan yang leading saat ini.
Seiring dengan keinginan dan niat yang luhur (lii’lai kalimatillah) dalam membina dan mengembangkan masyarakat, dengan kemandiriannya, pesantren secara terus-menerus melakukan upaya pengembangan dan penguatan diri. Walaupun terlihat berjalan secara lamban, kemandirian yang didukung keyakinan yang kuat, ternyata pesantren mampu mengembangkan kelembagaan dan eksistensi dirinya secara berkelanjutan.
Secara historis pesantren didesain sebagai sebuah lembaga pendidikan yang mempunyai spesifikasi dalam bidang pengkajian ilmu-ilmu keislaman atau tafaqquh fi al-din an-sich. Seiring dengan kemajuan peradaban umat manusia yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi, pesantren juga ikut berbenah untuk menyambut fajar baru peradaban tersebut dengan melakukan berbagai langkah transformatif, meskipun masih ada pesantren yang masih bertahan pada pola ortodoksi-klasik secara eksklusif karena dianggap sebagai sebuah sumber otoritatif par-excellent.
Melakukan perubahan dan pembaharuan terhadap pesantren sangat sulit dan jauh berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam pada umumnya. Hal itu terjadi karena adanya pola kepemimpinan yang terpusat pada seorang figur kiai, sebagai pemimpin dan sekaligus pemilik pesantren, terlepas hal tersebut apakah termasuk kekurangan atau kelebihan yang dimiliki oleh pesantren itu sendiri, sehingga disebut sebagai subkultur[2]. Pembahasan dalam tulisan ini adalah ingin melihat dengan jelas, tentang bagaimana sebenarnya melakukan sebuah perubahan dan reformulasi terhadap pesantren terutama dalam bindang kurikulum, sebagai sebuah jantung pendidikan, untuk merespon modernitas. Sebelum masuk terhadap pembahasan tersebut, maka hal yang perlu di bahas terlebih dahulu tentunya adalah pola kepemimpinan kiai di pesantren yang banyak menetukan arah perjalanan pesantren termasuk kurikulum yang dipakai, disamping ia sebagai tokoh sentral sebagaimana tersebut di atas.
          B.   Pembahasan
1.   Kepemimpinan Kiai Pesantren
Kepemimpinan (leadership) merupakan persoalan yang  sangat menarik, karena disamping sebagai sebuah simbol kekuasaan ia adalah salah satu faktor penting yang sangat mempengaruhi berhasil atau tidaknya sebuah organisasi. Memang harus diakui bahwa suatu organisasi akan dapat mencapai tujuannya ketika ia mempunyai modal yang cukup, struktur organisasi yang akurat, dan tenaga terampil yang tersedia. Namun, kepemimpinan juga merupakan faktor yang pantas bahkan harus dipertimbangkan. Karena tanpa pemimpin yang baik, maka roda sebuah organisasi tidak akan berjalan dengan lancar.[3]
Kepemimpinan kiai yang dimaksud adalah seni memanfaatkan seluruh daya (dana, sarana, dan tenaga) kiai pesantren untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dalam khittah pesantren oleh founding father pesantren tersebut. Manifestasi yang paling menonjol dalam seni memanfaaatkan daya tersebut adalah cara menggerakkan dan mengarahkan unsur stakeholder pesantren untuk berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak pemimpin dalam rangka mencapai tujuan pesantren tersebut,[4] karena substansi dari sebuah kepemimpinan atau pemimpin adalah sejauh mana pemimpin tersebut mampu menggerakan stakeholder yang ada dalam sebuah organisasi.
Menurut ajaran Islam, setiap orang adalah pemimpin, dan setiap manusia adalah pemimpin yang harus memepertanggungjawabkan perbuatannya kepada yang sesamanya, semasa ia hidup, dan kelak kepada Allah setelah ia meninggal. Namun demikian, yang dimaksud dengan pemimpin disini adalah bukan setiap individu santri yang berada di bawah asuhan kiai, dan bukan pula pemimpin unit-unit satuan kerja dalam struktur organisasi pesantren, akan tetapi yang dimaksud adalah kiai pengasuh pesantren yang menjadi tokoh sentral dan kunci dan sekaligus pemimpin spiritual pesantren.
Secara garis besar kepemimpinan kiai di pesantren dikelompokkan menjadi dua tipe; yaitu pertama  kepemimpinan individual, dan kedua kepemimpinan kolektif. Pada tipe pertama kiai serba menentukan segala-galanya dan mempunyai otoritas mutlak. Ia merupakan pusat kekuasaan tunggal yang mengendalikan sumber-sumber, terutama pengetahuan dan wibawa yang menjadi sandaran panutan bagi para santrinya, maka kiai adalah menjadi tokoh yang melayani sekaligus melindungi para santri.
Kiai menguasai dan mengendalikan seluruh sektor kehidupan pesantren. Guru (ustadz), apalagi santri  baru berani melakukan sesuatu tindakan di luar kebiasaan setelah mendapat restu langsung dari kiai. Ia ibarat raja yang segala titahnya menjadi konstitusi, baik tertulis maupun konvensi yang berlaku bagi kehidupan pesantren. Ia mempunyai hak untuk menjatuhkan hukuman terhadap santri-santri yang dianggap melanggar ketentuan titah-titahnya menurut ketentuan normatif yang telah membumi di kalangan pesantren[5]. Kepemimpinan ini adalah bercorak natural dengan pola menejemen yang natural pula, sehingga tidak jarang pola yang seperti ini lambat laun mengancam eksistensi pesantren setelah ditinggal mati oleh kiainya.
Kelamahan-kelemahan dari model kepemimpinan ini adalah disebabkan oleh beberapa hal: pertama, karisma; adalah pola yang sudah cukup menunjukkan segi tidak demokratisnya, sebab tidak rasional. Apalagi jika disertai dengan tindakan-tindakan yang bertujuan memelihara karisma itu seperti jaga jarak dan ketinggian dari para santri. Pola kepemimpinan seperti ini akan kehilangan kualitas demokratisnya Kedua personal, karena kepemimpinan kiai adalah karismatik maka dengan sendirinya juga bersifat pribadi dan personal. Kenyataan ini juga mengandung implikasi bahwa seorang kiai tidak mungkin digantikan oleh orang lain serta sulit ditundukkan ke bawah rule of game nya administrasi dan menejemen modern. ketiga relegio-feodalisme, seorang kiai selain menjadi pemimpin agama sekaligus merupakan traditional mobility dalam masyarakat feodal. Feodalisme  yang berbungkus keagamaan ini bila disalahgunakan jauh berbahaya dari feodalisme belaka.  Dan keempat kecakapan teknis, karena dasar kepemimpinan dalam pesantren seperti itu, maka faktor kecakapan teknis menjadi tidak begitu penting. Kekurangan ini menjadi salah satu sebab pokok tertinggalnya pesantren dari perkembangan zaman[6]. Suksesi kepemimpinan ini, kiai adalah pemimpin seumur hidup, selama belum meninggal kepemimpinan pesantren tetap dipangkunya. Bahkan semasa masih hidup kiai telah mempersiapkan kaderisasinya yang diharapkan dapat meneruskan kelak setelah ia meninggal.
Tipe kepemimpinan yang kedua adalah pola kepemimpinan kolektif, hal ini banyak didasari oleh kegagalan-kegagalan dan kelemahan yang ditimbulkan oleh pola kepemimpinan yang pertama. Karena profil kepemimpinan kiai yang karismatik tampa disadari justru menimbukan sikap otoriter dan berkuasa mutlak diprediksi tidak akan mampu bertahan dalam kurun waktu yang relatif cukup lama. Hal ini disebabkan karena kaderisasi hanya terbatas pada keturunan yang kadang-kadang mereka tidak sanggup untuk meneruskan estafet kepemimpinanpara pendahulunya.
Melihat fenomena seperti tersebut di atas maka sangat dibutuhkan pola kepemimpinan yang sifatnya kolektif dengan pola modern yang sudah jelas job description nya demi kelangsungan pesantren kedepan, dengan membentuk yayasan sebagai badan hukum yang dapat memayungi pesantren. Dengan pelembagaan seperti ini dapat mendorong pesantren menjadi lembaga impersonal. Pembagian wewenang dalam tata laksana kepengurusan diatur secara fungsional, sehingga ahirnya semua itu diwadahi dan digerakkan menurut tata aturan menejemen modern.
Kecenderungan membentuk yayasan ternyata mendapat sambutan baik dan tangan terbuka yang hanya terbatas pada pesantren-pesantren yang tergolong modern dan belum memikat pesantren-pesantren yang eksklusif-tradisional.  Kiai tradisional cenderung lebih otoriter daripada kiai modern. Dengna kata lain  kiai pesantren modern yang peka terhadap perubahan dan perkembangan zaman relatif lebih demokratis dan toleran lebih mudah beradaptasi terhadap upaya-upaya pembaharuan. Perbandingan kecenderungan ini menunjukkan bahwa masih banyak pesantren yang masih belum membentuk yayasan, karena pesantren tradisional masih kelihatan menjamur.
Kepemimpinan kolektif adalah wujud benteng pertahanan terhadap kematian dan kepunahan pesantren sebagai cagar pradaban Islam tertua. Kelangkaan pemimpin pesantren di masa depan selalu diantisipasi dengan menyiapkan kader-kader yang potensial untuk mengasuh, memimpin dan mengembangkan lembaga pendidikan islam tertua tersebut. Dengan penyelenggaraan menejemen pendidikan pesantren dengan pola yayasan ini memiliki nilai penting dalam menjaga tongkat estafet pergantian kepemimpinan. Maka pola kepemimpinan kolektif dapat dikatakan sebagai alternasi yang berperan untuk menjaga sustenibelitas eksistensi pesantren.
Dalam konteks saat ini pesantren sangan membutuhkan sistem kepemimpinan multi-leaders, yang mempunyai beberapa skill dan network dengan berbagai lapisan dan juga ada yang mengurus hal-hal yang sifatnya peraktis dalam bidang keilmuan[7]. Dengan kepemimpinan kolektif ini pesanten memerlukan keterlibatan sejumlah kalangan, mulai dari ulama, cendikiawan, ilmuan, dan masyarakat sendiri, sebab tantangan yang dihadapai pesantren itu sangat berat, sehingga posisinya kedepan tidak hanya menjadi monopoli kiai dan keluarganya akan tetapi juga masyarakat luas.
Selanjutnya untuk mendukung kelancaran pendidikan pesantren perlu dibentuk kelompok-kelompok pembinaan, meliputi:
a.    Kelompok pembinaan pendidikan pesantren, yang menitikberatkan pada pengembangan pola-pola kepemimpinan yang sesuai dengan kepentingan pesantren di masa depan.
b.    Kelompok pembinaan untuk pengajaran.
c.    Kelompok pembinaan pengembangan polo-pola hubungan pesantren dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya.
d.    Kelompok pembinaan keterampilan bagi para santri.
Kelompok-kelompok yang berbeda ini perlu dibimbing oleh orang yang berbeda-beda, sehingga benar-benar terdapat distribusi kekuasaan dan wewengan secara adil dan proporsional.
2.   Kurikulum Pesantren
Secara umum pesantren tidak mengenal dan tidak memiliki kurikulum yang tersusun dengan rapi dan terstruktur layaknya di lembaga-lembaga pendidikan formal seperti di madrasah dan sekolah, ketika kurikulum diartikan sebagai sebuah dokumen resmi yang dijadikan acuan pembelajaran oleh pendidik untuk mencapai tujuan pendidikan. Akan tetapi pesantren jauh sebelum istilah kurikulum tersebut familiar di masyarakat pesantren telah mengenal apa yang disebut dengan dengan kitab kuning (al-kutub al-shafra’) sebagai mata pelajaran atau buku-buku teks standar (al-kutub al-muqarrarah) yang digunakan dalam setiap pesantren.
Dalam memberikan sebuah definisi dan pemaknaan terhadap kurikulum, di kalangan para ahli tidak ditemukan kata sepakat, bahkan selalu mengalami dinamika dan pergeseran secara horizontal. Ada yang mendefinisikan bahwa krikulum adalah sejumlah mata pelajaran di sekolah yang harus ditempuh untuk mendapatkan ijazah atau naik kelas.[8] Akan tetapi definisi kurikulum telah mengalami perluasan mulai sejak tahun 1950-an sampai 1970-an, formulasi difinitif dari J. Galen Saylor dan William M. Alexander seperti dikutip Nasution dapat menjadi representasi dari perluasan cakupan makna kurikulum tersebut. Mereka merumuskan bahwa “the curriculum is the sum total of school’s efforts to influence learning. Whether in the classroom, on the paly ground, or out of school” . Kurikulum yang dimaksud disini adalah segala usaha yang dilakukan oleh sekolah untuk mempengaruhi siswa agar belajar, baik berlangsung di dalam kelas, di halaman sekolah maupun di luar sekolah.
Dari sinilah kemudian kurikulum pesantren dapat merujuk pada definisi yang luas yang dikembangkan oleh Saylor dan Alexander tersebut di atas. Sehingga dapat mencakup kegiatan intra maupun ekstra kurkuler, yang melibatkan santri dan disamping juga kiai, dalam proses transfer ilmu pengetahuan dan nilai serta spiritual.
Yang dimaksud kurikulum pesantren disini adalah materi pelajaran yang akan dipelajari oleh santri selama dirinya menetap (muqim) di pesantren. Materi pelajaran yang disampaikan di pesantren semuanya ditulis dengan dengan menggunakan bahasa arab yang familiar disebut kitab kuning[9] (kutub al-shafra’). Secara umum kitab kuning yang diajarkan di pesantren meliputi bidang-bidang; tauhid, fiqh, tafsir, hadis, usul fiqh, tasawuf, lughah (bahasa arab) (Nahwu, Sarraf, Balaghah, dan tajwid, Mantiq dan Ahlak)[10], diantaranya adalah sebagai berikut:
Bidang fiqh meliputi; Safinah al-Najah, Sullam al-Taufiq, Masail al-Sittin, Mukhtashar, Minhaj al-Qawim, al-Hawasyi al-Madaniyah, al-Risalah, Fath al-Qarib, al-Iqna’, Tuhfatul al-Habib, al-Muharrar, Minhaj al-Thalibin, Fath al-wahhab, Tuhfatul Muhtaj, dan Fath al-Mu’in. Dalam tata bahasa arab (lughah) adalah Muqaddimah al-Jurumiyah, Mutammimah, al-Fawaiq al-Janniyah, al-Dzurrah al-Bahiyah, al-‘Awamil al-Mi’at, Inna Awla, Alfiyah, Minhaj al-Masalik, Tamrin al-Thullab, al-Rafi’iyyah, Qathr al-Nada, Mujib al-Nida, dan al-Mishbah, dalam bidang Ushul al-Din, terdapat Bahjat al-‘Ulum, Umm al-Barahin (‘Aqidat al-Sanusi), al-Mufid Fath al-Mubin, Kifayat al-‘Awam al-Miftah fi Syarh Ma’rifah al-Islam,al-Dasuki, al-Husun al-Hamidiyah dan Jauharat al-Tauhid, dalam bidang tasawuf adalah; Ihya’ al-‘Ulumuddin, Bidayatul Hidayah, Minhaj al-‘Abidin, al-Hikam, Su’ab al-Iman dan Hidayat al-Azkiya’ ila Thariq al-Awliya’ sedang dalam bidang tafsir adalah; Jalalain, Ibnu Katsir, al-Bizhawiy, al-Maraghi, al-Manar, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, dan Ibnu Jarir al-Thabari dan Tarikh meliputi Khulasah Nur al-Yaqin[11]. Kurikulum pesantren ini dalam proses pembelajarannya, meskipun dengan menggunakan metode pembelajaran, yang lazim digunakan yang bandongan dan sorogan, berdasarkan pada tingkat kemudahan dan kompleksitas ilmu dan masalah yang dibahas dalam kitab, jadi ada tingkat awal, tingkat menengah, dan tingkat lanjut.
Teknik pengajaran yang digunakan untuk menyampaikan kurikulum pesantren adalah metode sorogan dan bandongan, sehingga dua metode ini menjadi cirri khas dari pembelajaran dipesantren[12]:
1.    Sorogan, adalah pelajaran yang diberikan secara individual. Kata sorogan berasal dari bahasa Jawa sorog artinya menyodorkan. Seorang santri menyodorkan kitabnya kepada kiai untuk minta diajari. Karena sifatnya individual, maka santri harus benar-benar menyiapkan diri sebelumnya, mengenai hal apa dari isi kitab yang bersangkutan yang akan dijarkan oleh kiai.
2.    Bandongan, adalah pelajaran yang diberikan secara kelompok, seluruh santri. Kata bandongan berasal dari bahasa Jawa banding artinya pergi berbondong-bondong secara kelompok
3.    Halaqah atau Syawir, artinya belajar secara bersama-sama secara diskusi untuk salang mencocokkan pemahaman mengenahi arti terjemahan dan pemahaman isi kitab dari berbagai dimensi atau disiplin keilmuan yang lain, yang dalam tradisi NU mengkristal menjadi bahstul masail.
4.    Lalaran, adalah belajar sendiri secara individual dengan jalan menghafal, biasanya dilakukan dimana saja, di masjid, serambi kamar dan sebagainya.
3.   Al-Kutub al-Shafro’ Vis a Vis Al-Kutub Al-Baidla’
Pondok pesantren adalah termasuk pendidikan khas Indonesia yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat serta telah teruji kemandiriannya sejak berdirinya sampai sekarang. Pada awal berdirinya, bentuk pesantren sangat sederhana, kegiatannya masih diselenggarakan di rumah-rumah kiai dan di dalam surau atau masjid dengan beberapa orang santri yang kemudian di bangun asrama-asrama yang kemudian dikenal dengan istilah pondok sabagai tempat tinggalnya. Pesantren paling tidak mempunyai tiga peran utama, yaitu sebagai lembaga penddidikan, lembaga dakwah, dan sebagai pengembangan masyarakat.
Dalam perkembangannya pesantren menjadi sebagai lembaga sosial yang memberikan warna khas bagi perkembangan masyarakat disekitarnya. Perananpun menjadi agen perubahan dan pembaharuan (agen of change)  sekalipun demikian adanya apapun yang dilakukan pesantren tetap saja berpijak pada khittah berdirinya, yaitu tafaqquh fi al-din.
Dalam tradisi pesantren, kitab kuning merupakan ciri dan identitas yang tidak bisa dilepaskan. Sebagai lembaga kajian dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman (al-‘ulum al-syar’iyyah), kitab kuning adalah bagian yang inheren. Bahkan Martin Van Brunessen menegaskan, kehadiran pesantren malah hendak mentransmisikan Islam tradisional sebagiamana terdapat dalam kitab-kitab kuning.[13]
Sebagai konsekuensi logis dari adanya dinamika pembaharuan yang ada dipesantren[14], sampai saat ini pesantren memiliki beberapa jenis pendidikan yaitu, pesantren, madrasah, sekolah dan perguruan tinggi. Dengan masuknya pendidikan sistem madrasah, sekolah dan perguruan tinggi ke pesantren, yang dilengkapi dengan perpustakaan dan teknologi informasi, didalamnya tidak hanya terdapat koleksi kitab-kitab kuning, akan tetapi juga kitab-kitab putih baik yang berbahasa Arab, Inggris dan bahasa Indonesia bahkan dalam bentuk softwer atau CD (al-ilm fi al-shudur, al-ilm fi al-sutur, al-‘ilm fi CD room), semuanya dapat dengan mudah diakses dan dikonsumsi oleh santri. Maka dialektika antara berbagai disiplin keilmuan baik yang termasuk dalam rumpun al-ulum al-syar’iyyah  dan al-‘ulum ghair al-syar’iyyah merupakan sebuah keniscayaan.[15] Hal ini didasari oleh masuknya ilmu-ilmu kealaman, ilmu hitung, sosial dalam kurikulum sekolah atau madrasah. Sehingga bekal keilmuan siswa yang tinggal dipesantren sudah relatif maju dan mengalami lompatan yang luar biasa, sehingga terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang secara diametral pasti menimbulkan bias-bias baik eksternal maupun internal yang menuntut adanya solusi pemecahannya, terutama di era multikural saat ini.
Kondisi yang demikian adanya bukan berarti menggadaikan metode pembelajaran yang telah dipakai sebelumnya dan bahkan telah menjadi ciri khas pesantren, seperti sorogan dan bandongan, akan tetapi dialektika antara al-kutub al-shafra’, dengan al-kutub al-baidla[16] menemukan titik labuhnya secara lebih leluasa dalam suasana belajar halaqah dan musyawarah dikalangan para santri. Karena dalam forum ini santri di beri keleluasaan -untuk tidak mengatakan kebebasan- dalam mengemukankan pendapat dan bahkan melakukan analisa kritis terhadap teks kitab kuning, dengan menggunakan analisis sosio-historis kritis.
Letupan-letupan intlektual di lingkungan pesantren tidak sulit  kita temukan. Bahkan kajian-kajian terhadap kitab-kitab putih, seperti karya Moh. Arkoun, Muhammad Abed Al-Jabiri, Muhammad Syahrur, Hassan Hanafi secara diam-diam telah akrab menjadi bahan diskusi para santri. Disamping kitab-kitab putih yang berbahas Inggris bagi santri saat ini bukan sesuatu yang tabu dan haram untuk dibaca, seperti karya Khalid Abou el-Fadl, Fazlur Rahman dan lain-lain, bahkan wacana semiotika dan hermeneutika sudah tidak asing lagi di telinga santri saat ini.
Pergeseran literatur keagamaan dari kitab kuning (al-kutub al-shafra’) ke kitab putih (al-kutub al-baidla), seperti tersebut di atas, merupakan realitas objektif, yang  mau tidak mau harus diterima oleh pesantren. Pergeseran tersebut tidak lain adalah akibat dari faktor internal dan eksternal pesantren yang tidak dapat dibendung[17]. Kenyataan ini menjadi problematika tersendiri bagi pesantren yang eksklusif yang ingin mempertahankan unsur-unsur tradisional Islam dalam pemilihan literatur pesantren. Apa pun usaha pesantren untuk tetap menggunakan literatur kitab kuning, ia akan terbentur dengan perkembangan internal dan ekternal. Dalam kondisinya apa pun kitab kuning tetap harus dikontekstualisasikan, karena kitab kuning sudah akrab dan bahkan menjadi darah daging bagi masyarakat Indonesia, melihat pentingnya kontektualisasi tersebut maka sesuatu yang harus segera dilakukan adalah dengan dengan melakukan dialog antara dua warisan tradisi keilmuan tersebut, dengan cara pengembangan pembelajaran dan kritik-metodologis dengan paradigma lintas ilmu[18].
Akibat adanya hubungan dialektis antara dua warisan tradisi intlektual tersebut di atas, maka paradigma santri juga berubah, yang semula hanya berkutat pada kiadah “al-muhafadhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (mempertahankan tradisi lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik), justru beranjak pada “wa al-ijadu bi al-jadid al-ashlah” (memproduksi hal-hal yang baru yang lebih baik pula), yang berupa karya-karya akademik dari berbagai corak dan disiplin keilmuan yang berbeda. Dengan prubahan paradigma yang seperti inilah maka eksistensi pesantren tetap mampu merespon secara positif terhadap relitas global yang mengitarinya dengan tidak lari dari khitthah pesantren sebagai pijakannya.
Jika tradisi keilmuan pesantren di Indonesia sekarang ini mampu melihat secara kritis bangunan keislaman klasik yang qabilun li al-taghyir  (menerima perubahan) dan qabilun li al-niqas (menerima terhadap kritik) maka dunia pesantren melihat dengan mudah bahwa bentuk piramida keilmuan Islam klasik tampak kurang nuansa pemikiran sejarah dan kurang pendekatan sosialnya. Tradisi kritis ini tentunya bermula dari pengaruh pemikiran filosofis-kritis terhadap segala bentuk pemikiran manusia, termasuk di dalamnya adalah gugusan pemikiran keagamaan. Tradisi kritis filosofis melihat khazanah intelektual Islam dan pemikiran Islam yang ada di pesantren pada umumnya tidak lain dan tidak bukan adalah suatu produk sejarah yang tidak ma’shum.[19]
Tradisi pemikiran Islam kritis analitis filosofis hanya dapat berkembang dalam pesantren jika literatur al-kutub al-shafra’ dapat bergumul dan bersentuhan langsung secara dialektis serta berdialog dengan literatur al-kutub al-baidha’  karena dalam buku-buku putih itu termuat hal-hal yang belum terurai secara akademik dalam al-kutub al-shafra’. Kajian dan pendekatan sosial-historis dan filosofis akan memperkaya khazanah intelektual pesantren karena al-Qur’an sangat kaya dengan berbagai nuansa pendekatan selain pendekatan normatif seperti yang mengkristal dalam al-kutub al-shafra’.
Pesantren bukanlah museum purba tempat dimana benda-benda unik dan kuno disimpan dan dilestarikan juga bukan penjara dimana tindakan dan pikiran dikontrol, dipasung dan dikendalikan habis-habisan. Akan tetapi pesantren adalah laboratorium tempat segala jenis aliran pemikiran dikaji dan uji ulang, didalamnya tidak ada lagi yang perlu ditabukan apalagi disakralkan[20]. Pesantren bukanlah lembaga yang ekslusif, yang tidak peka terhadap perubahan yang terjadi di luar dirinya. Inklusifitas pesantren terletak pada kuatnya sumber inspirasi dan ilmu keislaman yang diambil dari kitab kuning yang tidak hanya diterima secara taken for granted.

      C.  Kesimpulan

Pesantren sebagai lembaga pendidikan agama tertua di Indonesia, tentunya sangat diharapkan mampu memberikan jalan keluar terhadap segala macam problematika modernitas yang telah menggurita saat ini. Tentunya merespon persoalan modernitas dan globalisasi tidak semudah mengedipkan mata, akan tetapi membutuhkan proses yang cukup panjang.
Diantara proses tersebut adalah pertama dibutuhkan sosok kepemimpinan atau dalam hal ini adalah kiai yang inklusif terhadap realitas fakta social yang terjadi di luar dirinya.  Kedua diperlukan adanya jembatan penghubung terhadap dua warisan tradisi intlektual yang berbentuk al-kutub al-shafra’ dan al-kutub al-baidla’  yang sebelumnya terperangkap dalam kubangan dekotomis-konfrontatif menuju pola dialogis-dialektis. Ketiga  adalah dengan cara kritik-metodologis terhadap pembelajaran bandongan dan sorogan dengan lebih mengarah pada metode halaqah atau musyawarah yang lebih kritis, terutama ketika dikaitkan dengan berbagai perspektif keilmuan yang berbasis pada relitas. Keempat perlunya sarana perpustakaan yang lengkap dan memadai sebagai jantung pendidikan dan temapat dimana inspirasi itu tumbuh.

*Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Jurusan Kependidikan Islam Program Doktor. Tulisannya dimuat diberbagai media, baik lokal dan nasional. Sekarang menjabat sebagai ketua Sekolah Tinggi Islam Tarbiyah Nasy’atul Muta’allimin Madura dan Penasehat di kumpulan Ikatan Keluarga Alumni Al-in’am Yogyakarta (IKAAY).

DAFTAR PUSTAKA

Amin Haedari Dkk, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernitas Dan Kompleksitas Global, (Jakarta: IRD Press, 2004)
Abd. A’la, Pembaruan Pesantren, (Yogyakarta: LKiS, 2006)
HE. Badri dan Munawiroh, Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah, (Jakarta: Puslitbang Lektur Kegamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, 2007)
Karel A.Steenbrink, Pesantren Madrasan Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3S, 1994)
Kusmana dan JM.muslimin, Paradigma Baru Pendidikan Restrospeksi dan Proyeksi Modenisasi Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: IISEP bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Direktorat Jendral pendidikan Tinggi Islam Depag RI, 2008)
Nurcholish Madjid, Bilik-bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1997)
Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Suatu Kajian Tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren,(Jakarta: INIS, 1994)
M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)
Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, (Jakarta: Erlangga, ttp)
Martin Van Brunessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, (Bandung: MIZAN, 1995)
Manfred Ziemek, Pesantren Dalam Perubahan Sosial, (Jakarta: P3M, 1986)
Sukamto, Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren, (Jakarta: LP3S, 1999)
Zamahsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, (Jakarta: LP3S, 1982)




[1] Nurcholish Madjid, Bilik-bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1997), hlm. 3.
[2] Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi Esai-Esai  Pesantren, (Jogjakarta: LKiS, 2007), hlm. 1-11
[3] Bahkan ada ungkapan bahwa kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik, dapat dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir dengan rapi, dari sini kemudian dapat kita lihat bahwa peran seorang pemimpin sebagai organisator sebuah organisasi begitu penting untuk mencapai tujuan sebuah organisasi yang ditetapkan, lebih-lebih pada pesantren sebagai pusat studi Islam (markaz al-dirasah al-islamiyah).
[4] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Suatu Kajian Tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren,(Jakarta: INIS, 1994),hlm. 79-80.
[5] Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, (Jakarta: Erlangga, ttp), hlm. 31
[6] Nurcholish Madjid, Bilik-bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, hlm. 95-96,  mengenahi kepemimpinan karismatik ini bisa juga dilihat dalam Sukamto, Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren, (Jakarta: LP3S, 1999), hlm. 25-29

[7] Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. hlm. 49-50
[8] S. Nasution,  Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 7-8
[9] Orang lazim menyebutnya dengan kitab kuning (al-kutub al-shafra’) karena buku atau kitab  ini ditulis di atas kertas yang berwarna kuning, sehingga nampak bahwa kitab itu bercorak klasik sebagai simbol mempertahankan warisan tradisi intlektual ulama terdahulu. Ada yang menyebut kitab kuning ini dengan al-kitab al-qadimah (kitab klasik) sebagai lawan dari al-kitab al-hadasah atau al-mu’asharah (kitab modern).
[10] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Suatu Kajian Tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren, hlm.142
[11] Kurikulum yang diterapkan di pesantren berbeda-beda antara satu pesantren dengan pesantren yang lainnya, hal ini sangat banyak ditentukan oleh kiai yang menjadi pemegang otoritas mutlak kepemimpinan dan basic ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh  kiai yang besarngkutan, lihat Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, hlm.124-125, bandingkan dengan Martin Van Brunessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, (Bandung: MIZAN, 1995), hlm. 141-170. Muhtarom, Reproduksi Ulama di Era Globalisasi Resistensi Tradional Islam, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm.223-224.
[12] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Suatu Kajian Tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren, hlm.143-144, Lihat Zamahsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, (Jakarta: LP3S, 1982), hlm. 28-31. Manfred Ziemek, Pesantren Dalam Perubahan Sosial, (Jakarta: P3M, 1986), hlm. 168-167.

[13] Martin Van Brunessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, (Bandung: MIZAN, 1995), hlm. 17
[14] Dalam bahasa Karel A. Steenbrink adalah menolak sambil mengikuti atau menolak dan mencontoh, lihat Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3S, 1994), hlm. 62-69.
[15] Ida Farida & Anis Masruri, Konstribusi UIn Terhadap Peningkatan Mutu Madrasah; Perpustakaan sebagai Pusat sumber Belajar. Dalam Kusmana dan JM.muslimin, Paradigma Baru Pendidikan Restrospeksi dan Proyeksi Modenisasi Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: IISEP bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Direktorat Jendral pendidikan Tinggi Islam Depag RI, 2008), hlm. 286-291.
[16] Istilah kitab kuning (al-kutub al-sahfra’) disini adalah kitab-kitab yang ditulis di atas kertas yang berwarna kuning atau putih dengan menggunakan bahasa arab baik yang masih gundul maupun yang telah bersyakal atau harakat, dimana fokus kajian berkisar pada masalah fiqh, kalam, tafsir, hadits, lughah, tarikh  dan tasawuf yang sudah biasa dipakai di pesantren. Sedangkan kitab putih (al-kutub al-baidla’) adalah kitab-kitab atau buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa  Arab, Inggris, Indonesia yang isinya ilmu-ilmu sosial-humaniora (sejarah, filsafat, sosiologi, antropologi, psikologi, semiotika, hermeniutika dan lain-lain).
[17] HE. Badri dan Munawiroh, Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah, (Jakarta: Puslitbang Lektur Kegamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, 2007), hlm. 164-167.
[18] Amin Haedari Dkk, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernitas Dan Kompleksitas Global, (Jakarta: IRD Press, 2004), hlm. 149-150.
[19] M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 41
[20] Abd. A’la, Pembaruan Pesantren, (Jogjakrta: LKis, 2006), hlm.vii-ix




Baca Posting Terkait Lainnya:

0 komentar:

Poskan Komentar

Kolom Berlangganan Tulisan Terbaru IKAAY

Masukkan email anda jika ingin berlangganan tulisan kami:

Tulisan yang anda pesan akan sampai ke tujuan tanpa ongkos kirim.Jika tulisan yang kami kirim tidak sesuai dengan keinginan anda silahkan pilih sendiri Disini